Bisnis Perlengkapan Sekolah Anjlok Di Tengah Pandemi

Maka dari itu, rajin-rajinlah promosi barang yang dijual baik itu di sosial media. Maka dari itu, rajin-rajinlah promosi barang yang dijual baik itu di sosial media maupun di market. Ukuran alat ini yang tidak terlalu besar seperti mesin cuci pada umumnya menjadikannya sebagai salah satu produk jualan on-line paling laris tahun lalu. Orang-orang lebih memilihnya dibanding harus membayar jasa laundry, terutama di tengah pandemi ini yang membuat semua orang cemas akan higiene di lingkungannya.

Adapun, sebelum datang ke toko, pelanggan bisa mengecek terlebih dahulu nilai limit pembiayaan yang bisa mereka dapatkan. Limit ini bisa dengan mudah dicek oleh pelanggan dan diajukan langsung lewat aplikasi My Home Credit, atau dengan scan QR code yang ada di toko. Pelanggan Home Credit bisa mendapatkan limit kredit untuk pembiayaan hingga Rp20 juta dengan DP mulai dari 0% yang bisa mereka gunakan untuk mengajukan barang impian mereka di toko. Seiring dengan peningkatan transaksi belanja online, pembayaran secara nontunai juga meningkat, misalnya melalui produk perbankan digital, dompet digital, hingga produk pembiayaan digital.

Perlu digaris bawahi bahwa poin ini tidak berlaku untuk retailer barang yang paling dibutuhkan saat pandemi seperti masker, hand sanitizer, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Penjualan barang tersebut harus dibatasi dan dijaga kestabilan harganya untuk mencegah penimbunan. Terakhir, barang-barang kategori kesehatan terekam meningkat 2,5 kali lipat. Nuraini berpendapat, hal itu terjadi karena banyaknya masyarakat yang banyak memburu masker serta pelindung wajah di masa pagebluk ini. Solopos.com, SOLO — Bersepeda menjadi tren di tengah pandemi Covid-19.

Anggaran untuk bisnis UMKM di masa pandemi harus benar-benar diperhatikan. Fokuskan anggaran untuk keperluan bisnis yang paling penting dan mendesak. Bahkan tak jarang pula para pelaku UMKM ini saling membantu supaya usaha anggotanya tak gulung tikar akibat keadaan yang kurang mendukung. Hal ini bisa terjadi karena pelaku UMKM memiliki komunitasnya sendiri.

Toko- toko yang laku di saat pandemi

Pekerjaan dilakukan dari rumah dengan sistem on-line, begitu pula dengan sekolah, berbagai perayaan, dan lain sebagainya. Pebisnis juga dituntut untuk mengikuti ritme yang sama, beralih ke jalur on-line. Ani Srikandi, pemilik Toko DRP Azzam menuturkan pandemi COVID-19 membuat omset penjualan di tokonya merosot tajam. Bahkan penurunan omset di toko yang menjadi bagian dari Djarum Retail Partnership miliknya ini mencapai lebih dari 50 persen. Aktivitas yang sedikit dan rasa bosan dengan aktivitas yang sama membuat orang-orang memutuskan mencari alternatif untuk hiburan selama dirumah saja.

Untuk mendukung kinerja Berrybenka saat ini sudah hadir gudang Berrybenka yang dibuat dengan teknologi terkini dan terletak di Serpong Jakarta. Gudang yang memiliki luas 500 m2 ini menampung semua produk Berrybenka. Untuk menjadi mitra waralaba juga tidak diperlukan modal yang sangat banyak, hanya sekitar 3-10 jutaan Anda sudah bisa memiliki warung waralaba minuman yang berkualitas.

“Di awal pandemi malah banyak order, karena banyak orang beraktivitas di rumah, jadi larinya ke hobi yang bisa dilakukan di rumah, salah satunya adalah berkebun,” ujarnya. Hanya saja, bisnis kaktus Tessa sempat terhambat saat stok pot tanaman hias warna-warni sulit didapat. Pot tanaman hias warna-warna itu menjadi langka berbarengan dengan tren kuliner ice pot kala itu. Masyarakat menyadari manfaat mainan sebagai salah satu sarana yang digunakan oleh anak dan keluarga dalam berkegiatan.

Nah, jika kita kulik lebih dalam, anjuran untuk #dirumahaja ternyata membuat mereka memiliki lebih banyak waktu untuk merawat diri. Jadi, hal ini bisa menjadi peluang ubagi pebisnis kosmetik untuk menjual lebih banyak produk. Selain menjual produk dengan harga terjangkau, mereka juga melakukan promo free of charge ongkir dan potongan harga. Nah, dari contoh di atas Anda tentu sudah mendapat inspirasi ide bisnis di era new regular, kan?